image image image image image image image image
Biro Kesekretariatan

Ketua Biro : Syamsul Fauzi

Anggota-anggota :

Ikhwan

Divisi Keputrian

Ketua Keputrian : Nunung Arrafi'u (TI'06)

Anggota Tetap :

Biro Danus

Ketua Biro : Nanda Prasetyo

Anggota-anggota :

Ikhwan

  • Ricco
  • Lingga P.R.
  • Agung Hendarto
  • Azhar S

 

Divisi Jaringan

Ketua Divisi : Dindik Prasetyo

Anggota-anggota :

Ikhwan

  • Yaumul Fauzi
  • Dicky Aditya


AKhwat

Divisi Insiroh (Informasi, Seni & Riyadhoh)

Ketua Divisi : Didy Trapsilo

Anggota-anggota :

Ikhwan

Divisi Pendidikan

Ketua Divisi : Redi Prihadi Setiawan

Anggota-anggota :

Ikhwan

  • Syahnandra
  • Liwaul Hamdi
  • Irwan Setiawan
  • Fajar Cahyadi

Akhwat

Divisi Syi'ar

Ketua Divisi : Ajuarsyah

Anggota-anggota :

Ikhwan

Divisi Pembinaan

Ketua Divisi : Imersyahruddin Perdana

Anggota-anggota :

Ikhwan

  • Herwan Setiawan
  • Wijaya
  • Redi Setiadi
  • Senja

Akhwat

  • Mia Mahbatiyah
  • Putut Ajeng Fitasari
  • Siti Aliya Azzahra
  • Qonia Isnasari
  • Ratna
  • Ika

 

Mutiara Kata
Waktu adalah barang paling berharga untuk kau jaga. Menurutku, ia adalah barang yang mudah hilang darimu. "... Dan sembahan-sembahan yang kamu seru, selain Allah, tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak akan mendengar seruanmu itu; kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu; dan pada hari Kiamat mereka mengingkari kemusyrikanmu, dan tiada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (Fathir: 13-14) "Barangsiapa melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya, dan jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman" (HR Muslim). Allah telah memberikan kesempatan kita hidup, dengan kata lain kita telah diberikan sebentang waktu untuk merasakan segala kenikmatan hidup. Namun sering kita menyia-nyiakan waktu yang telah di anugrahkan oleh Allah kepada kita. Tidakkah kita takut saat Allah meminta pertanggung jawaban kepada kita? Janganlah lalai untuk mengingat kematian, karena kematian tidak pernah lalai menyongsong kita, karena waktu tidak pernah lalai bergerak dan tidak pernah kembali. Kematian adalah batas waktu yang kita miliki di dunia ini. Penyesalan akan percuma karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu. "Patutkah mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tak dapat menciptakan apa-apa? Padahal selain Allah itu adalah ciptaan(Nya). Dan sembahan-sembahan selain Allah itu tidak mampu memberi pertolongan kepada orang-orang musyrik, dan kepada dirinya sendiri pun sembahan-sembahan itu tidak dapat memberi pertolongan." (Al-A'raf: 191-192) Kader adalah rahasia kehidupan dan kebangkitan. Sejarah umat adalah sejarah para kader militan yang memiliki kekuatan jiwa dan kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana umat tersebut dalam menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat ksatria (Al-Futuwah)... -Risalah Hal Nahnu Qaumun Amaliyun- "Sesungguhnya amal-amal itu terkait dengan niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu mendapatkan keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia, maka akan mendapatkannya, atau karena wanita maka ia akan menikahinnya. Maka hijrah itu sesuai dengan niatnya" (Muttafaqun ‘alaihi).

 

Belajar Dari Burung Hud-Hud

 


dakwatuna.com - Umat Islam patut bersyukur karena ajaran dan agama yang dianutnya adalah agama yang telah diridhai oleh Allah Taala.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran:19)

Islam adalah agama para nabi dan umat-umat terdahulu ketika mereka masih lurus menjalankan agama mereka sesuai dengan perintah rasul dan nabi mereka seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah: 132-133 dan ayat136; Ali Imran: 52, 64 dan ayat 84; Al-Maidah: 111. Karena itu, umat Islam kaya akan kisah dan pelajaran dari umat-umat terdahulu. Kisah yang dialami oleh saudaranya seiman dalam menegakkan tauhid dan memakmurkan bumi. Kisah dan kejadian yang dialami umat terdahulu dapat kita lihat pada Kalamullah untuk diambil ibrah dan pelajaran. Kisah merupakan salah satu uslub, metode dalam mendidik umat.

Di antara kisah dan kejadian unik yang ditayangkan dalam Alquran adalah kisah burung Hud-hud dengan nabi Sulaiman as. Seekor burung hud-hud yang melakukan kerja dakwah tanpa ada perintah terlebih dahulu. Ia mengintai suatu aktivitas suatu kaum yang dengan sebab kabar itulah, segolongan umat mendapat hidayah Allah, masuk ke dalam agama Islam.

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (An-Naml:22-23)

Tindakan burung Hud-hud janganlah dijadikan dalil untuk tasayyub (lepas kontrol), tetapi harus dipahami dengan positif bahwa yang dilakukan burung Hud-hud merupakan tindakan memanfaatkan furshah -peluang- untuk menjalankan misi dakwah. Dakwah yang diawali dengan mengetahui keadaan spiritual mereka.

Burung Hu-hud tidak keluar dari tujuan pemimpinnya, juga tidak melanggar prinsip-prinsip umum atau mengabaikan perintah lainnya yang lebih utama, tetapi kisah tersebut menunjukkan bahwa pada diri prajurit terdapat ciri yaqdzah (selalu sadar akan misi), diqqah (teliti) dalam beramal dan semangat untuk menyadarkan kaum. Juga menunjukkan bahwa pada diri pemimpin terdapat sifat atau sikap kontrol, ketegasan dan penyelesaian yang tidak sembrono.

Kecerdasan dan kecemerlangan berfikir burung Hud-hud tersebut telah ia manfaatkan untuk mengambil kesempatan untuk mencari berita dan kabar suatu kaum karena ia berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam kepada mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah diserta dengan tindakan yang bijak, presentasi yang gemilang serta keberanian dalam mengemukakan alasan.

Kisah ini banyak mengandung pelajaran kita semua, para dai, pendidik dan pengemban amanah di antaranya:

Seorang dai tentu lebih mulia dari seekor burung Hud-hud yang memiliki inisiatif positif dan mencari-cari kebaikan. Seorang dai lagi mukmin lebih terpanggil untuk berinisiatif dan melakukan perbuatan baik tanpa harus menunggu perintah.

Memandang kepada para pemimping dakwah bahwa tidak seluruh rencana dan program dapat dikerjakan dan dapat dikontrol, karena itu pengarahan terhadap semua perintah dan kebijakan adalah lebih diutamakan. Kita dapat menyimak bahwa Nabi Sulaiman as. yang dikuatkan dengan wahyu Allah swt., jin, burung-burung dan makhluk lainnya tunduk padanya, namun ia tidak mampu mengetahui semua perkara dan tidak mampu menyerap semua informasi. Karenanya ia memerlukan sedikit informasi dari burung yang kecil yang secara positif merupakan masukan besar bagi dakwah.

Dari kisah tersebut kita menyaksikan pengecekkan atas keterlambatan burung Hud-hud. Dengan sikap ijabiyah(positif) yang pada burung Hud-hud, maka alasannya itu diterima.

Di lain pihak, (Sulaiman berkata, “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.) Menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus menerima alasan keterlambatan tersebut dan membatalkan hukuman yang telah ia janjikan karena alasan burung itu. Alasan burung Hud-hud tersebut mengandung kemungkinan benar dan dusta. Tetapi kenyataannya adalah bahwa yang dikabarkan oleh burung hud-hud adalah benar dan dari kabar itulah nabi Sulaiman as. kemudian menyerukan untuk berjihad.

Suatu kekuatan yang dimiliki burung Hud-hud yang digunakan secara positif untuk taat kepada pemimpin, kekuatan ilmu pengetahuan. Sehingga ia selamat dari hukuman berupa siksaan dan penyembelihan dengan ilmu pengetahuan.

“Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” An-Naml: 22

Keberanian burung Hud-hud untuk berbicara kepada nabi Sulaiman a.s. karena kabar yang dibawa burung Hud-hud merupakan kabar penting.

Pelajaran lain, adalah bahwa kita seharusnya selalu hadir dalam segala aktivitas da’wah, pembinaan dan pelayanan umat. Boleh jadi seseorang tidak pernah absen untuk hadir di setiap pertemuan atau rapat akan tetapi keikutsertaannya di setiap aktivitas, kegiatan khidmat umat tidak kelihatan.

Sebagai pemimpin, dapat mengambil beberapa pelajaran yang dapat dicermati dari sikap dan respon Nabi Sulaiman terhadap kerja burung Hud-hud. Di antara pelajaran itu adalah:

Merasa kehilangan terhadap pengikutnya. Seorang pemimpin harus memperhatikan siapa yang tidak hadir dalam setiap pertemuan dan kegiatan. Karena perhatiannya terhadap kehadiran anggotanya merupakan bagian dari tanggungjawabnya yang harus diemban. Nabi Sulaiman a.s. mempertanyakan ketidakhadiran burung Hud-hud.

Sangat perhatian terhadap perkara. Seorang pemimpin harus memiliki haibah di hadapan anggotanya dengan menyatakan sikap tegasnya di hadapan pengikutnya.

Evaluasi. Seorang pemimpin harus berinisiatif untuk mengevaluasi proses pembinaan, dakwah dan kegiatan pelayanan di tengah umat.

Klarifikasi uzur. Mengklarifikasi alasan alasan anggotanya agar penyikapan dan perlakukan yang akan diambil lebih berdampak positif.

Dengan kerja yang kelihatannya kecil, hanya sekadar mengetahui keadaan dan kondisi keagamaan suatu kaum, dapat menghasilkan prestasi besar, yaitu keislaman Ratu dan rakyatnya, tunduk untuk beribadah kepada Allah bersama nabi Sulaiman a.s.

Karena itu pula dalam dunia peradaban materi kita melihat banyak karya dan hasil penemuan besar awalnya dirintis oleh kerja dan inisiatif satu orang. Hasil kerja seorang ini kemudian didukung dan didanai oleh kelompok atau negara. Seperti penemuan sepeda, lalu mesin cetak, telegraf, bola lampu dan lain-lain. Demikan pula dalam medan dakwah, banyak yang awalnya merupakan terobosan pribadi kemudian menjadi garapan oraganisasi.

Jadi dengan sikap positif seorang dai, pendidik akan banyak amal Islam yang dapat dihasilkan seiring dengan hasil yang gemilang. Di antaranya adalah dengan merasa kurang di hadapan Allah dalam menjalankan semua kewajiban yang telah dibebankan kepadanya, maka akan muncul rasa pada diri seorang mukmin untuk berusaha mengerjakan satu kewajiban dengan sebaik-baiknya dan dengan niat yang lurus. Dengan demikian ia telah mengerti maksud dari taklif Allah, yaitu agar manusia berusaha membaguskan amalnya dengan cara meluruskan niat dan menyesuaikan segala perbuatan dan ibadahnya sesuai dengan syariat

Di antara sikap positif adalah tidak meremehkan perkara kecil, karena seringkali sesuatu yang besar menjadi kecil nilainya karena niat yang kurang ikhlas dan kadang beberapa kalimat akan mendatangkan kebaikan yang banyak karena niat dan keluar dari hati yang tulus. Pernah seorang ulama ditanya, “Sampai kapan Anda terus menulis hadits? Lalu ia menjawab, “Mungkin kalimat yang akan menyelamatkanku masih belum aku tulis.”

Untuk menunjukkan betapa perkara ringan itu tidak boleh dianggap ringan, Rasulullah saw. menegaskan bahwa banyak perkara ringan atau sepele, tetapi di sisi Allah mempunyai bobot pahala dan kebaikan bagi yang melakukannya.

عن أَبِي ذَرّ قالَ قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: تَبَسّمُكَ في وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالمَعْروفِ ونهيُكَ عن المُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وإِرْشَادُكَ الرّجُلَ في أَرْضِ الضّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ، وبَصَرُكَ لِلرّجُلِ الرّدِيءِ البَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ والشّوْكَ والعَظْمَ عن الطّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ في دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَة. (رواه البخاري والترمذي)

Dari Abu Dzar r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu, perintahmu mengerjakan kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah bagimu, kamu menunjuki orang yang tersesat juga merupakan sedekah bagimu, membantu orang yang kurang penglihatannya juga merupakan sedekah bagimu, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan juga merupakan sedekah bagimu, kamu menuangkan air dari timbamu ke timba saudaramu juga merupakan sedekah bagimu.” (H.R. Bukhari dan Tirmidzi)

Dalam konteks amar ma’ruf nahyi munkar, maka kita akan menemukan medan dan lapangannya yang cukup luas dan lebar. Di mana kita akan menemukan setiap hari fenomena atau suasana kemungkaran yang mesti kita hilangkan dari masyarakat. Maka dengan kata-kata yang bijak kita dapat menuliskan keprihatinan kita atau analisa kritis kita di meda cetak. Atau sekadar mendukung artikel bagus yang mengangkat permasalahan yang sedang kita cermati. Atau mungkin dengan mengirimkan surat ke pejabat atau wakil kita di DPR pusat maupun daerah. Yang penting dalam diri seorang dai adalah keinginan dan kemauan untuk mengadakan perubahan ke arah positif dengan cara yang dapat ia tempuh sebatas otoritas yang ia miliki. Karena itu keberadaan kita pada posisi yang memiliki otoritas yang luas dan besar akan membantu dan mengefektifkan usaha dakwah dalam perbaikan masyarakat.

Meskipun dengan menjadi ketua RT atau RW kita dapat lebih maksimal dan efektif untuk membuat perubahan di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, kenapa kita tidak lakukan? Kenapa kita tidak peduli dengan hal ini, sehingga membiarkan posisi itu dipegang atau berada pada orang yang pemahaman Islamnya masih minim.

Atau posisi struktural di tempat pekerjaan yang menyebabkan kita memiliki otoritas terhadap bawahan kita, maka merupakan suatu bekal dan modal untuk menjadi bagian dari perubahan di tempat tersebut. Perubahan menuju lebih baik. Allahu a’lam

 

Kisah Muslimah Pemberani

Ummu Ri'lah Al-Qusyairiyah

Ummu Ri'lah merupakan tipe Muslimah yang bisa diteladani kaumnya.

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang Muslimah yang pemberani. Ia juga dikenal sebagai seorang Muslimah yang memiliki loyalitas yang tinggi terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW. Wanita mulia yang dikenal dengan sebutan  Ummu Ri'lah al-Qusyairiyah itu juga turut memperjuangkan hak-hak kaum perempuan agar memiliki peran yang sama dengan kaum Adam dalam beribadah dan meraih kemuliaan di hadapan Allah SWT.

Kisah Ummu Ri'lah tercatat dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Mustaghfiri dan Abu Musa melalui jalan (sanad) yang berbeda satu sama lain, namun bertemu pada sanad terakhirnya, Abdullah bin Abas. Hadis itu mengisahkan seorang wanita yang sangat diplomatis, yakni Ummu Ri'lah.

Suatu hari, Ummu Ri'lah datang menghadap Nabi Muhammad SAW, lalu berkata, ''Assalamu'alaikum wahai Rasulullah. Kami para wanita , selalu tertutup di balik tirai rumah, tempat sarung-sarung suami, mendidik anak-anak, sementara kami tak memiliki tempat bersama para tentara.''

Ummu Ri'lah kemudian melanjutkan perkataannya, ''Maka ajarilah kami sesuatu yang dengannya kami bisa mendekatkan diri kepada Allah.'' Rasulullah SAW pun menjawab, ''Berzikirlah kalian (para wanita) sepanjang siang dan malam, tahanlah pandangan dan kecilkan suara.''

Wanita pemberani itu lalu bertanya, ''Wahai Rasulullah, saya seorang penghias, selalu menghiasi para istri untuk suami mereka. Apakah itu adalah perbuatan dosa , sehingga saya harus menghentikannya?'' Nabi Muhammad SAW menjawab, ''Wahai Ummu Ri'lah, buatlah mereka bersolek dan hiasilah para perempuan juga jika belum mendapat jodoh.''

Keberanian seorang Ummu Ri'lah untuk memperjuangkan hak-hak kaum wanita agar memiliki  derajat amal yang sama dengan kamu pria yang berjihad di jalan Allah di hadapan Allah SWT sungguh terbilang fenomenal. Ia merasa peran wanita yang sebatas hanya di rumah kurang pas. Ummu Ri'lah menyayangkan tidak diikutsertakannya wanita dalam perang di jalan Allah SWT yang pahalanya begitu besar.

Dengan diplomatis, ia pun lantas bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang peran apa yang harus dilakukan perempuan agar memiliki kedudukan yang sama dengan kaum Adam  di  hadapan sang Khalik. Muhammad Ibrahim Salim dalam bukunya Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah SAW, menuturkan, upaya Ummu Ri'lah itu mampu menjelaskan ajaran Islam yang menempatkan wanita sesuai kodratnya.

''Islam menempatkan kedudukan Muslimah yang senantiasa berzikir sepanjang hari, menahan pandangannya (dari hal-hal yang diharamkan) dan merendahkan suaranya, dengan kaum lelaki yang berperang di jalan Allah SWT,'' papar Ibrahim Salim mengutip hadis Rasulullah SAW.

Ummu Ri'lah sempat menghilang selama hidup Rasullah SAW dan baru terlihat kembali ke madinah setelah Nabi SAW wafat, pada masa munculnya orang-orang murtad. ''Dia merasakan kesedihan yang teramat dalam atas wafatnya Nabi Muhammad SAW,'' tutur Ibrahim Salim. 

Ummu Ri'lah lalu membawa Hasan dan Husein  cucu Rasulullah SAW  mengelilingi lorong-lorong kota Madinah sembari menangi dan melantunkan sebuah syair: ''Wahai rumah Fatimah yang halamannya selalu damai. Sekarang rumah tersebut membangkitkan kesedihanku  setelah sekian lama  saya hidup di rumah tersebut.''  Sejak itu, rumah-rumah di setiap sudut kota Madinah larut dalam tangis dan duka.

Menurut Ibrahim Salim, Ummu Ri'lah bukan hanya seorang Muslimah yang pemberani, lebih dari itu ia juga seorang figur yang memiliki loyalitas tinggi terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW. Keberaniannya untuk bertanya kepada Rasulullah tentang hak perempuan untuk mendapat kemuliaan yang sama dengan kaum pria yang berjihad di jalan Allah merupakan bukti kecerdasan dan kemuliaan Ummu Ri'lah.

''Tipe Muslimah seperti ini hendaknya diteladani oleh kaumnya,'' papar Ibrahim Salim. Setiap kisah perempuan-perempuan mulia di sekitar Rasulullah SAW memberikan sebuah pelajaran berharga bagi para Muslimah di era modern ini. Yang dituntut Ummu Ri'lah bukanlah kesetaraan untuk sama dengan kaum pria secara kodrat, tetapi kesetaraan untuk beribadah dan meraih pahala dan kemuliaan di hadapan Allah SWT. heri ruslan

http://koran.republika.co.id/koran/52/102813/Kisah_Muslimah_Pemberani

Akhwat Genit, Apaan Tuh?

Akhwat adalah sebutan akrab untuk para wanita muslim. Akhwat secara bahasa Arab artinya saudara perempuan. Namun sudah maklum (diketahui) bahwa saudara yang dimaksud di sini adalah saudara seiman, sama-sama muslim. Hal ini bukan tak berdasar, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain," (HR. Muslim, no. 2564).

Namun memang sebagian orang menggunakan istilah akhwat untuk makna yang lebih sempit. Ada yang menggunakan istilah akhwat khusus untuk para muslimah yang aktifis dakwah, berarti yang bukan aktifis dakwah bukan akhwat.

Ada juga yang menggunakan istilah akhwat khusus untuk para muslimah yang berjilbab lebar, berarti yang berjilbab pendek bukan akhwat.

Ada yang lebih parah lagi, istilah akhwat hanya diperuntukkan bagi muslimah yang satu aliran atau gerakan, yang beda aliran dan gerakan bukan akhwat. Tentu kita lebih setuju makna yang umum, bahwa setiap muslimah yang mentauhidkan Allah, adalah akhwat. Namun yang lebih dikenal banyak orang, akhwat adalah para muslimah aktifis dakwah yang biasanya berjilbab lebar. Dan makna ini yang kita pakai di dalam tulisan saya ini.

Demi Allah, sungguh anggunnya para muslimah dengan hijab syar'inya (pakaian muslimah yang sesuai ajaran Islam), melambai diterpa angin, memancarkan cahaya indah dari sebuah keimanan yang mantap. Ya, keistiqomahan seorang muslimah untuk menjaga auratnya dengan jilbab yang syar'i adalah cermin keimanannya, setidaknya dalam hal berpakaian.

Sungguh beruntung mereka yang telah menyadari bahwa Allah telah memerintahkan para muslimah untuk berhijab syar'i, dan sungguh Allah tidak akan memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali itu adalah sebuah kebaikan.

Sungguh beruntung mereka yang telah menyadari bahwa Allah telah memerintahkan para muslimah untuk berhijab syar'i, . . .

Namun sayang sungguh sayang, sebagian akhwat yang berhijab syar'i belum menyadari esensi dari hijab yang dipakainya, yaitu untuk menjaga dirinya dari fitnah syahwat. Sebagian dari mereka hanya menganggap hijab syar'i hanya sekedar tuntutan berpakaian dari syari'at, atau ada pula yang hanya menganggapnya sebagai tuntutan mode supaya terlihat anggun, terlihat cantik, keibuan, dll. Wal'iyyadzubillah!.

Akhirnya ditemukanlah tipe muslimah yang disebut akhwat genit, yaitu mereka (muslimah) yang sudah berhijab syar'i, jilbab lebar, namun tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Mereka tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah (kerusakan;bencana) yang ditimbulkan dari pergaulan laki-laki dan wanita yang melanggar batas-batas syari'at. Padahal seharusnya merekalah (para akhwat) yang mendakwahkan bagaimana cara bergaul yang syar'i.

Akhwat genit, yaitu mereka (muslimah) yang sudah berhijab syar'i, jilbab lebar, namun tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya.

Mereka tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah (kerusakan;bencana) yang ditimbulkan dari pergaulan laki-laki dan wanita yang melanggar batas-batas syari'at.

Mungkin saja para akhwat genit ini belum tahu tentang tuntunan Islam dalam bergaul dengan lawan jenis. Ketahuilah, memang Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mewajibkan ummat muslim berbuat baik dalam segala hal.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu," (HR. Muslim). Dan memang benar bahwa Allah telah memerintahkan hamba-Nya mempererat persaudaraan, ukhuwah sesama muslim, bersikap santun, sopan, banyak memuji. Namun perlu diperhatikan, hal-hal baik tersebut akan berbeda hukum dan akibatnya jika diterapkan kepada lawan jenis.

Berkata manis, santun, mendayu-dayu, itu baik, namun bila diterapkan kepada lawan jenis, bisa berbahaya.

Menanyakan kabar kepada seorang kawan, itu baik, namun bila sang kawan itu lawan jenis, bisa berbahaya.

Sering memberi nasehat-nasehat kepada seorang kawan itu baik, namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Senyum dan menyapa saat berpapasan dengan kawan, itu baik, namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: "Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menundukkan pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya." (QS. An-Nur : 24).

Berbuat baik memang diperintahkan, namun Allah juga memerintahkan untuk menjaga pandangan dan pergaulan terhadap lawan jenis. Maka janganlah mencampurkan hal-hal baik dengan hal yang dilarang.

Ciri-ciri akhwat genit:

1.    Berpakaian yang mengundang pandangan

Mungkin ia memakai jilbab lebar, gamis, namun jilbab dan busana muslimah yang dikenakannya dibuat sedemikian rupa agar menggoda pandangan para ikhwan. Warna yang mencolok, renda-renda, atau aksesoris lain yang membuat para pria jadi terpancing untuk memandang.

2.    Senang dilihat

Akhwat genit, senang sekali bila banyak dilihat oleh para ikhwan. Maka ia pun sering tampil di depan umum, sering mencari-cari perhatian para ikhwan, sering membuat sensasi-sensasi yang memancing perhatian para ikhwan dan suka berjalan melewati jalan yang terdapat para ikhwan berkumpul.

3.    Kata-kata mesra yang Islami

Seringkali akhwat-akhwat genit melontarkan kata-kata mesra kepada para ikhwan. Tentu saja kata-kata mesra mereka berbeda dengan gayanya orang berpacaran, namun mereka menggunakan gaya bahasa Islami. misalnya; Jazakallah yach akhi; Akh, antum bisa saja dech; Pak, jangan sampai telat makan lho; sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang qowi; Kaifa haluka akhi; minta tausiah dunks; Akh, besok syura jam 9, jangan mpe telat lhoo..

4.    SMS tidak penting

Biasanya akhwat-akhwat genit banyak beraksi lewat SMS. Karena aman, tidak ketahuan orang lain, bisa langsung dihapus. Ia sering SMS tidak penting, menanyakan kabar, mengecek shalat malam sang ikhwan, mengecek shaum sunnah, atau SMS hanya untuk mengatakan Afwan atau Jazakallah.

5.    Banyak bercanda

Akhwat genit banyak bercanda dengan para ikhwan. Mereka pun saling tertawa tanpa takut terkena fitnah hati. Betapa banyak fitnah hati, VMJ, yang hanya berawal dari sebuah canda-mencandai.

6.    Tidak khawatir berikhtilat

Ada saat-saat di mana kita tidak bisa menghindari khalwat dan ikhtilat. Namun seharusnya saat berada pada kondisi tersebut seorang mukmin yang takut kepada Allah sepatutnya memiliki rasa khawatir berlama-lama di dalamnya, bukan malah enjoy dan menikmatinya. Demikian si akhwat genit. Saat terjadi ihktilat, akhwat genit tidak khawatir. Bukannya ingin cepat-cepat keluar dari kondisi tersebut, akhwat genit malah menikmatinya, berlama-lama, dan malah bercanda-ria dengan pada ikhwan laki-laki di sana.

7.    Berbicara dengan nada

Maksudnya berbicara dengan intonasi kata yang bernada, mendayu, atau agak mendesah, atau dengan gaya agak kekanak-kanakan, atau dengan gaya manja. Semua gaya bicara seperti ini dapat menimbulkan bekas pada hati laki-laki yang mendengarnya. Dan ketahuilah wahai muslimah, hal ini dilarang oleh syari'at. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang maruf." (QS. Al Ahzab: 32).

Para ulama meng-qiyaskan (menganalogikan) merendahkan suara untuk semua gaya bicara yang juga dapat menimbulkan penyakit hati pada lelaki yang mendengarnya.

Mari sama-sama kita perbaiki diri. Kita tata lagi pergaulan kita dengan lawan jenis. Karena inilah yang telah diperintahkan oleh syari'at. Dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu kebaikan. Dan tidaklah Allah melarang sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu keburukan. Dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada ummatnya bahwa fitnah (cobaan) terbesar bagi kaum laki-laki adalah cobaan syahwat, yaitu yang berasal dari wanita: "Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita." (HR. Muslim).

Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."

Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."
Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.

Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.
Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).
Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat". (I Korintus 11:3-10).
St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."
Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).
Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur'an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)
Di dalam Al Qur'an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Ahzab 59: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)
Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.
Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur'an sangat
memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nuur 4)
Bandingkan sikap Al Qur'an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:
"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel's father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).
Terjemahannya:
"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).
Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur'an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?
Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.
Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,
Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !
Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women's office di Universitas Queen berikut :
* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.
* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.
* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.
* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.
* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.
Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.
Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.
Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol 'kesucian' saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []
Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.
Terjemahan
ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.

Setelah bertahun - tahun meninggalkan desanya.....untuk menimba ilmu di berbagai pesantren dan berguru kepada banyak kyai.....pemuda kampung ini akhirnya kembali ke desanya.....masyarakat yang sangat menjunjung tradisi di kampungnya sangat berharap kepadanya.....untuk bisa mengamalkan ilmu yang diperolehnya hampir 20 tahun nyantri kepada warga kampung terutama anak - anak desa....

Slamet nama pemuda itu.....dia memulai mengumpulkan anak - anak di desanya untuk diajari membaca Al Qur'an dan ilmu agama islam.....dan juga mengisi pengajian - pengajian di surau - surau yang tersebar di seluruh desanya....Slamet bak orang suci yang sangat dikagumi oleh seluruh penduduk desanya.....tak ayal gelar Ustadz Slamet disandangnya.....kemana - mana Ustadz Slamet dihormati....disanjung oleh bapak - bapak, ibu - ibu dan juga oleh anak - anak.....
Orang - orang desanya mulai banyak yang datang meminta tolong kepadanya.....ketika hujan tidak kunjung datang maka orang sekampungnya mendesaknya untuk berdoa diberbagai kesempatan agar Allah segera menurunkan hujan.....Jika ada warga yang sakit maka buru - buru orang mengetok rumah Ustadz Slamet walau di malam hari untuk didoakan pak ustadz ini.....dan doa Ustadz Slamet makbul.....seringkali apa yang dimintakan doa kepada Allah.....tidak lama kemudian situasi berubah sesuai dengan apa yang diinginkan warga yang meminta tolong kepadanya.....

Ustadz Slamet awalnya tak begitu yakin dengan doanya sendiri.....tetapi karena rasa hormat kepada warga desanya maka diapun berdoa sebisanya.....dan akhirnya setiap hari berbondong - bondong warga kampung mendatangi rumahnya untuk meminta tolong atas keluhannya masing - masing yang sangat beragam.....dan anehnya setiap kali berdoa maka hajat warga yang meminta tolong kepadanya segera terpenuhi.....
Ketika setiap hari banyak orang desa yang mengantri di depan rumahnya.....ustadz Slamet mulai berfikir bahwa apa yang dilakukannya sudah tidak benar.....dia ingin menyudahinya.....tidak mau mendoakan warga yang datang dan meminta tolong untuk didoakan agar hajatnya terpenuhi.....dia berusaha untuk menolak setiap permintaan warga dengan menjelaskan bahwa dirinya hanya seorang guru ngaji.....dan sedikit ilmu fiqih, hadits dan tafsir......kalau sakit sebaiknya pergi ke puskesmas untuk diobati sama pak dokter atau bu bidan sanggahnya.....
Warga desa tak membeli penjelasannya.....sehingga

ketika seorang nenek tua sedang sakit datang dibawa kepadanya....Ustadz Slamet bersikukuh tidak mau mengobatinya.....dan malamnya nenek tersebut dikabarkan meninggal dunia.....Ustadz Slamet dalam kegamangan hatinya.....dia menyesalkan penolakannya untuk mendoakan nenek tersebut.....meski sisi yang lain dari hatinya membenarkan penolakannya.....Sejak itu dia bertekat untuk melayani doa apapun dari warga desa.....
Namun sejak saat itu tak satupun warga yang datang menemuinya.....Ustadz Slamet pun merasa senang sehingga dia bisa berkonsentrasi untuk mengajar ngaji anak - anak serta memberikan pengajian - pengajian saja.....
Suatu hari sebagian besar santri - santrinya tak tampak di surau dimana dia mengajar mengaji.....dari santri yang datang Ustadz Slamet mendapatkan berita bahwa ada jembatan yang menghubungkan rumah santri - santri ke surau ini yang putus karena diterjang air sungai yang meluap sehingga anak - anak tidak bisa pergi ngaji sore itu.....
Dengan beberapa santri akhirnya Ustadz Slamet mengajarkan kisah heroik Nabi Musa yang dikejar oleh Raja Firaun dan pengikutnya.....sehingga doa Nabi Musa pun mustajabah dikabulkan oleh Allah.....Nabi Musa dengan tongkatnya membelah laut menjadi jalan yang lempang untuk dilalui bersama pengikutnya.....Anak - anak sangat terkesima dengan pelajaran hari itu......Seusai pelajaran anak - anak mengajak ustadz Slamet untuk menjenguk salah satu orang tua santri yang sakit.....dan anak - anak sangat mendesaknya.....akhirnya berangkatlah dia bersama - sama santri - santrinya.....
Ternyata ditengah perjalanan mereka harus melewati sebuah sungai.....dan kebetulan jembatan kayu yang ada pun putus terbawa derasnya arus air sungai.....Di tengah - tengah situasi sulit itu..... Ustadz Slamet melihat pemandangan santri - santrinya yang sangat khusyu' dan khudu' berdoa.....kemudian seluruh santrinya bisa berjalan di atas air menyeberangi sungai dengan penuh riang.....Ayo pak ustadz....ayo berdoa dulu seperti saat Nabi Musa berdoa sebelum membelah lautan.....seru santri - santrinya.....
Ustadz Slamet pun akhirnya berdoa seperti yang diajarkan kepada santri - santrinya.....setelah berdoa dia melangkahkan kakinya menginjak air sungai yang mengalir deras.....daaaaaaaan.....byuuuuuuuuur......Ustadz Slamet tercebur dan terseret arus aliran sungai dan hampir tenggelam.....sambil berjuang menarik dirinya ke tepi sungai dia berteriak lantang......KALIAN SAJA ANAK - ANAK YANG PERGI.....KALIAN LEBIH SUCI.....DO'A - DO'A KALIAN LEBIH MUDAH MENEMBUS LANGIT.....he...he...he....slameeeeet.....slameeeet.....
Ketika sudah berhasil naik di pinggiran sungai sambil nafasnya terengah - engah.....Ustadz Slamet bergumam......SLAMET AKU ISOK NGELANGI.....( untung saya bisa berenang ).....oooaalaaa met.....slamet....mungkin itu sebabnya orangtuamu ngasi nama kamu.....SLAMET.....

note: "he..he...he....ada hikmah besar dalam cerita itu....terkait musjabahnya doa yang sangat berbanding lurus dengan kesucian hati....sehingga pintu2 langit terbuka.....mudah2an menjadi pelajaran...." (buat rihlah ja ni artikel dari Ustadz Taat Budi Utomo On Facebook) afwan ustadz ta' copy artikelna Smile

LDK Al-Futuwah STT-PLN | Berderap di Jalan yang Panjang...

Al Qur'an adalah Asy-Syifa

fakhrini

Buat Renungan
1.Kita bertanya jika mendapat musibah,"Kenapa Aku di Uji?" dan Alquran menjawab:
Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"kami telah beriman sedangkan mereka tidak di uji?" Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang2 sebelum mereka maka sesungguhnya Allah mengetahui orang2 yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang2 yang dusta.(AL Ankabut : 2-3)

2.Kita bertanya,"Kenapa aku tidak dapat yang aku idam2kan?" dan AlQuran menjawab:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amatlah baik bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amatlah baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu Allah mengetahu sedang kamu tidak mengetahui."(Al Baqarah : 216)

3.Kita bertanya,"Kenapa ujian seberat ini?" dan AL Quran menjawab:
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kemampuannya."(AL Baqarah : 286)

4.Kita bertanya,"Kenapa rasa kecewa menghinggapi hatiku?" dan Al Quran menjawab:
"Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati padahal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang2 yang beriman."(AL Imran : 139)

5.Kita bertanya,"Bagaimana kita harus menghadapinya?" dan Al Quran menjawab:
"Wahai orang2 yang beriman bersabarlah kamu(menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara perkara kebaikan)dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih dari pada kesabaran musuh di medan perjuangan)dan bersedialah(dengan kekuatan pertahanan di daerah2 sempadan)serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu berjaya (mencapai kemenangan)"

6.Kita bertanya,"Bagaimana harus aku menghadapinya?" dan Al Quran menjawab:
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang2 yang khusyu."(Al Baqarah : 45)

7.Kita bertanya,"Apa yang aku dapat daripada semua ini?" dan Al Quran menjawab:
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mukmin,diri,harta,mereka dengan memberikan syurga untuk mereka."(At Taubah : 111)

8.Kita bertanya,"Kepada siapa aku berharap?" dan Al Quran menjawab:
"Cukuplah Allah bagiku,Tidak ada Tuhan selain dari-NyA hanya kepada-NyA aku berserah diri."(AT Taubah : 129)

9.Kita berkata,"Aku udah tak tahan lagi!" dan Alqurran menjawab:
" ...Dan janganlah kamu berputus asa dari Rahmat Allah,sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."

 

Kisah Perjalanan Hidup : Ketika Wanita yang Kucintai, Pergi Meninggalkanku...

Maulana Hadi

Sebening tetesan embun pagi
Secerah sinarnya mentari
Bila ku tatap wajahmu ibu
Ada kehangatan di dalam hatiku

   

Dari Mata, Turun Ke Hati...

Maulana Hadi

Al-Futuwah.org- Matahari telah tergelincir. Seorang lelaki terlihat bersegera menuju masjid ketika adzan zuhur dikumandangkan dari sebuah masjid kampus. Lelaki itu berwudhu dan menunaikan shalat nawafil. Lalu ia menjadi makmum di shaff terdepan. Shalat wajib ia laksanakan dengan ruku’ dan sujud yang sempurna. Setelah shalat tak lupa ia memuji nama Tuhannya dan memanjatkan doa untuk dirinya, ibu, ayahnya dan untuk ummat Muhammad saw yang sedang berjihad fii sabilillah.

   

Kucing Kecil yang Penuh Makna....

Maulana Hadi
Al-Futuwah.org - Sepasang suami istri, ikhwan dan akhwat, berjalan kaki bersama sambil tertawa dan bercanda ria. Dari kejauhan, mereka melihat ada dua ekor kucing tengah berjalan beriringan. Ibu kucing dan anaknya yang masih kecil.
   

Kebaikan Si Fasik...

Maulana Hadi
Al-Futuwah.org - Ada seorang pria dari Kota Basrah, yang dikenal sebagai orang fasik, meninggal dunia. Tak ada seorang pun yang mau mengurus jenazahnya. Istrinya lalu membayar dua orang untuk memikul jenazahnya ke masjid untuk dishalati. Namun, tak seorang pun mau menshalati.
   

Kisah Belas Kasihan Rasulullah SAW Terhadap Pelaku Kesalahan

Maulana Hadi
Al-Futuwah.org - Apabila pelaku kesalahan itu menunjukkan penyesalan atas kesalahan-kesalahannya dan bertobat secara sungguh-sungguh, maka Nabi Saw memperlihatkan belas kasihan kepadanya. Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi pada sejumlah orang yang minta fatwa kepada beliau.
   

Arti Sebuah Obrolan

Maulana Hadi
Oleh Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc.

Al-Futuwah.Org--Tersebutlah dalam buku-buku sejarah bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang terkenal juga sebagai khalifah Ar-Rasyid yang kelima, telah berhasil merubah gaya obrolan masyarakatnya.

   

Page 1 of 2

Latest Message: 1 week, 5 days ago
  • feardauz : ajiiiib.... Razz
  • rafa : Subhanallah... Sungguh telah datang, mereka-mereka para penerus perjuangan...
  • Ayasha : woowww mantap akh tampilannya... Mr. Green
  • rifqi : bolelah webnya.. Mr. Green
  • rifqi : UAS!! Razz
  • Ayasha : all Admin,,, HAMASAH !!! Smile Uber Geek
  • imerzone : untuk member, ayo posting artikel ya. di menu utama>artikel>artikelmu (Member Only)
  • rifqi : Crying or Very Sad
  • imerzone : afwan, komponen videonya lagi ada trouble...sabar ya
  • imerzone : wa'alaikumsalam...

Only registered users are allowed to post

Iklan teks sponsor:
Kludesain
Mo bikin PIN satuan atau partai besar dengan harga mahasiswa ?? ya di Kludesain tempatnya.
Biro Danus
pasang iklanmu disini...
Biro Danus
Pasang Iklan disini cuma dengan Infak aza ke ROHIS... Smile
Biro Danus
Iklan textmu tampil hampir diseluruh halaman. dengan target jelas Infaknyapun pasti PAS Smile

Mini Ad Spot

Make a E-commerce 'n Company Profile Site dengan harga Murah Imer's Zone Your ad here Your ad here

Advertisement

Banner

Informasi ADK

Info Selengkapnya tentang PARIS 2010

Akan segera release awal 2010
Jaket Al-Futuwah
Pesan segera di Sekret ROHIS!
Hub.: Fidri

Buku Tamu Terkini

Khusus Tamu yang sekedar mampir jangan lupa tinggalkan jejakmu di Buku Tamu ya
PARIS
PARIS   H-2.  bismillahirrohmanirrohim  
For PARIS
Sang pencipta tidak pernah memberikan apa yang manusia pinta. Ia memberi apa yang manusia butuhkan.... HAmaSAH ya saudaraku...! PARIS tinggal beberapa hari lagi...jadi deg2an ane...he2
Rehat sejenak
Assalamu\'alaikum.. kepada antum yang sudah merasa lelah ketika smua usaha sudah dikerahkan, akan ada sebuah angin kesejukan yang kan hadir kelak, disaat orang lain berleha-leha dengan kesenangan dunia yang menipu, namun ada beberapa pemuda yang rela mengorbankan waktu, pikiran dan dananya untuk dawah... Insya Allah kamis tanggal 25 Feb 2010 akan ada Rujak Party + Taujih.. semangatWassalamualaikum
Assalamualaikum
Sukron katsiron tuk smua yg dh dtng DMI. AllohuAkbar!!!!!

Agenda Al-Futuwah

No current events.

Poling Web

Bagaimana menurut antum/antunna tampilan website Al-Futuwah sekarang?

Video Share Terkini Al-Futuwah

0:05:37
Added: 2010-01-01
From: rini
Views: 110
Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5
0:02:33
Added: 2010-01-01
From: rini
Views: 68
Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5
0:01:27
Added: 2009-11-26
From: Ayasha
Views: 221
Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5Rated 0 of 5

Yang lagi Online

0 user(s) and 5 guest(s) online | Show All

Advertisement

IdeBagus - Web Design dan hosting untuk website Indonesia

Statistics

Members : 36
Content : 42
Web Links : 6
Content View Hits : 2410