Tak Ada Alasan untuk Tidak Selalu Bersyukur 04/Jun/09 - 13:33
Syahdan, seorang saudagar tua keluar dari rumahnya yang megah bak istana. Tampak seorang anak muda duduk murung di depan rumahnya. Sebentar-sebentar menghela nafas panjang. Si saudagar menghampiri dan bertanya, “Anak muda, kenapa mukamu begitu murung, apakah kamu sedang ditimpa kemalangan?”
Sambil menggelengkan kepala, dia menjawab, “Aku orang miskin, nasibku jelek, tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, dan sering kelaparan. Bagaimana aku tidak murung?”
“Haha, seharusnya kamu gembira karena sebenarnya kamu kaya raya.”
“Tolong, Pak Tua, jangan permainkan aku. Aku tidak sedang bergaurau,” kata si pemuda dengan kesal.
Siapa yang Disebut Pemenang Sejati? 04/Jun/09 - 13:27
Dalam hidup ini, banyak sekali tolak ukur yang digunakan untuk menentukan seorang pemenang. Namun terkadang, definisi dari seorang pemenang itu tercipta hanya dari persepsi masyarakat, sehingga banyak orang yang disebut pemenang, namun jauh dari nilai-nilai seorang pemenang sejati. Contohnya adalah harta yang berlimpah, pendidikan yang tinggi, rumah mewah, peringkat 1 di kelas, IPK tinggi, dan lain sebagainya.
Siapa sajakah sebenarnya pemenang sejati itu? Sebelum menginjak ke kriterianya, sebenarnya Allah sendiri sudah meninggikan umat Islam sebagai pememang dibandingkan dengan umat yang lain.
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. 3 : 110).
Allah sudah memberikan pernyataan seperti itu. Belum lagi ketika kita mengingat bahwa kita adalah pemenang yang terlahir melalui seleksi sel sperma yang mampu bertahan dan menembus ovum dari ratusan ribu atau jutaan sel sperma yang lain. Bukankah setiap kita sungguh luar biasa? Selengkapnya >>
Hakikat Ilmu 03/Jun/09 - 16:37
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusyu' (tenang), do'a yang tidak didengar, dan dari nafsu yang tidak pernah puas." Begitulah bunyi salah satu do'a yang diajarkan Rasulullah ketika kita hendak mencari ilmu. Namun ilmu yang bagaimanakah yang dimaksud Rasulullah tidak berguna itu?
Mu'adz bin Jabal, salah seorang sahabat, meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, "Pelajarilah ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya tasbih, mengkajinya adalah jihad, dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu, seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, diesakan, dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturrahim diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya, Allah mengangkat bangsa-bangsa, lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu, dan pemberi petunjuk pada kebajikan, karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya dari kedzaliman, dan kekuatan tubuh dari kelemahan." Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, "Aku bertanya pada Jibril, 'Apakah kepemimpinan itu?' Jibril menjawab, 'Akal.'." Selengkapnya >>
Untuk Dakwah, Tak Ada Alasan Untuk Berkata: 'Afwan!! 25/May/09 - 13:41
Al-Futuwah.org - Afwan, satu kata yang seringkali terlontar dari lisan aktivis dakwah. Entah berapa banyak sudah kata 'afwan yang kita keluarkan. Salahkah? Tentu tidak. Karena 'afwan adalah kata yang digunakan sebagai awalan untuk mengungkap permohonan maaf atas suatu kesalahan, kelemahan, ketakberdayaan, atau kekurangan. Tapi bagaimana jika kata 'afwan disalahtempatkan? 'Afwan digunakan sebagai senjata ampuh untuk ngeles dari satu amanah ke amanah lain yang ('afwan) mungkin tak begitu penting (lagi-lagi fiqh prioritas). Rasanya kata afwan tidak pernah lepas dari ritual komunikasi kita. Sedikit-sedikit, 'afwan... Sebentar-sebentar, 'afwan... Kapan kita akan menjadi da'i yang profesional? ?
Ada lagi yang lebih suka berlindung di balik kelemahan, sehingga mudah baginya untuk mencari alasan untuk berkata 'afwan karena kelemahannya itu. Parahnya lagi, jika hal itu dilakukan oleh kader yang sudah matang. Mungkin benar kata seorang ustadz: kader, semakin bertambah usia tarbiyahnya, semakin pandai pula ia membuat alasan untuk berkata: 'afwan...